• Untuk Pejuang Dakwah

    Agustus08:

    Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya. (QS al-Anfal [8]: 60).

  • Goresan Pena

  • SMAN 1 AIR BESAR KABUPATEN LANDAK

    DESAIN INI MERUPAKAN RACANGAN UNTUK MENGADAKAN PENELITIAN DI SMA NEGRI 1 AIR BESAR KABUPATEN LANDAK.

    DESAIN INI HANYA RANCAGAN SEBAGAI SYARAT UTUK PEGGANTI UJIAN JADI TIDAK TERLALU PALID. TETAPI CUKUP BISA DIJADIKAN RUJUKAN UNTUK MENYUSUN DESAIN PENELITIAN, KHUSUSNYA DALAM BIDANG PENDIDIKAN.

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Tujuan pendidikan nasional pada dasarnya sejalan tujuan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan, serta cinta pada tanah air agar dapat menumbuhkan manusia pembangunan yang mampu membangun dirinya sendirinya dan bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

    Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan motivasi yang tinggi pada setiap orang. Dimana dalam kehidupan sehari-hari motivasi memegang peranan penting, untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu. tanpa adanya motivasi orang tidak akan melakukan sesuatu. Menurut MC. Donald (yang dikutip Sardiman A.M, 2001:7) motivasi adalah” perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Sedangkan menurut Abd. Rachman Abror (1993: 114) motif merupakan “daya dorong, daya gerak atau penyebab seseorang melakukan berbagai kegiatan dengan tujuan tertentu”.

    Motivasi belajar penting bagi siswa, karena dengan motivasi belajar siswa dapat menyadarkan dirinya untuk lebih mempersiapkan diri dalam proses belajar mengajar sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal dan hal ini akan tergambar dalam ketekunan belajar seorang siswa dengan usaha yang maksimal pula. Disamping itu, melalui motivasi siswa dapat mengarahkan kegiatan belajarnya serta lebih meningkatkan semangat dalam belajar yang pada akhirnya siswa tersebut akan berpikir kedepan bahwa akan ada perjalanan belajar an kemudian bekerja walaupun diantara kedua aspek itu diselingi kegiatan istirahat dan bermain. Bila motivasi tersebut disadari oleh pelakunya sendiri, maka sesuatu pekerjaan dalam hal ini tugas belajar akan terselesaikan dengan baik.

    Motivasi belajar terbagi 2, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang dipengaruhi faktor-faktor dari dalam siswa itu sendiri, seperti faktor mendapatkan keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pemahaman, dan sebagainya. Motivasi ektrinsik adalah motivasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar siswa, seperti faktor angka, kredit, ijazah, guru, sarana sekolah, dan sebagainya.

    Mengingat faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa sangat banyak, maka penelitian ini difokuskan pada penelitian faktor-faktor ektrinsik siswa kelas XI. Menurut Sardiman A.M (2001:81) adalah “motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar”. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ada ujian dengan harapan mendapatkan nilai yang baik, sehingga akan dipuji oleh pacar atau temannya.

    Mata pelajaran IPS merupakan gabungan dari berbagai cabang ilmu sosial seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi dan tata negara. Mata pelajaran IPS ini bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.

    Untuk mencapai tujuan diatas, maka diperlukan motivasi belajar yang sesuai dengan bidang IPS, karena motivasi sangat bermamfaat bagi guru dan siswa khususnya dalam membantu memperlancar serta dapat memberikan kemudahan dalam proses belajar. Kegiatan belajar siswa sangat berkaitan dengan motivasi belajar siswa tersebut, hal ini akan berdampak pada tujuan atau hasil belajarnya.

    B. Masalah

    Berdasarkan latar belakang diatas, yang menjadi masalah umum dalam penelitian ini adalah “Faktor-faktor ektrinsik apa saja yang mempengaruhi motivasi siswa belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran IPS di SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Landak?”.

    Untuk menghindari masalah yang terlalu luas maka penulis merumuskan masalah umum menjadi sub-sub masalah sebagai berikut:

    1 apakah faktor guru dalam mengajar disekolah dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI ?

    2 apakah faktor kehadiran guru dalam kelas dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI ?

    3 apakah faktor sarana belajar disekolah dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI ?

    4 apakah faktor sarana belajar dirumah dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI ?

    C. Ruang Lingkup Penelitian

    Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk memperjelas batasan-batasan dalam penelitian ini. Sehingga perlu dikemukakan tentang variabel dan definisi operasional.

    1 Variabel Penelitian

    Menurut Suharsimi Arikunto (2002:96) bahwa variabel penelitian adalah “objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dalam suatu penelitian”. Sedangkan Menurut Sugiyono (2004: 38) menyatakan variabel adalah “suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang maupun objek yang mempunyai variabel tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”.

    Dari kedua pendapat diatas maka dapat ditarik ke simpulan bahwa variabel penelitian adalah segala sesuatu yang menjadi objek penelitian pada masalah yang akan diteliti.

    Dalam penelitian ini menggunakan variabel tunggal, adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah “faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar”, dengan indikator-indikator :

    a. Faktor mengajar guru disekolah

    b. Faktor kehadiran guru dikelas

    c. Faktor sarana belajar disekolah

    d. Faktor sarana belajar dirumah.

    2 Definisi Operasional

    Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini maka perlu adanya penjelasan istilah. Adapun definisi operasional yang dimaksud adalah:

    a. Motivasi belajar

    Menurut Abd. Rachman Abror (1993: 114) motif merupakan “daya dorong, daya gerak atau penyebab seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dengan tujuan tertentu”, sedangkan menurut Mc. Donald (yang dikutip Sardiman A. M, 2001: 71), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

    Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif yang ditandai dengan adanya rasa dan mengacu kepada faktor yang menggerakan dan mengarahkan tingkah laku pada saat tertentu terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa sangat mendesak. Dalam hal ini adalah motivasi belajar siswa kelas XI SMA Negri 1 Air Besar Kabupaten Ladak pada mata pelajaran IPS.

    b. Mata pelajaran IPS

    Menurut Diah Harianti ( 2007: 7), model pembelajaran IPS merupakan gabungan dari berbagai cabang ilmu sosial seperti: geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi dan tata negara. Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terajadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.

    D. Tujuan Penelitian

    1 Untuk mengetahui adanya faktor mengajar guru disekolah dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran IPS di SMA Negeri Air Besar Kabupaten Lndak.

    2 Untuk mengetahui adanya faktor kehadiran guru dalam kelas dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran IPS di SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Landak.

    3 Untuk mengetahui adanya faktor sarana belajar disekolah dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran IPS di SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Landak.

    4 Untuk mengetahui adanya faktor sarana belajar dirumah dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran IPS di SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Landak.

    E. Manfaat Penelitian

    1 Bagi penulis

    Penelitian ini merupakan penambahan wawasan ilmu pengetahuan sekaligus mengaplikasikan teori-teori yang telah diterima selama dibangku kuliah.

    2 Bagi sekolah

    Penelitian ini dapat diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan dalam pelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan kualitas sekolah sehingga dapat dicontoh oleh siswa.

    3 Bagi guru

    Penelitian ini diharapkan dapat bermamfaat bagi guru khususnya bidang studi IPS, sebagai bahan masukan dalam mengatasi dan meningkatkan motivasi belajar siswa khususnya siswa kelas XI SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Ladak.

    4 Bagi siswa

    Penelitian ini diharapkan pula dapat bermamfaat bagi siswa untuk lebih meningkatkan motivasi belajarnya dalam mencapai hasil yang maksimal.

    F. Metode dan Bentuk Penelitian

    1 Metode Penelitian

    Metode penelitian adalah suatu cara yang ditempuh untuk memecahkan masalah peneltiian, dengan demikian metode yang digunakan harus sesuia dengan masalah yang diteliti. Adapun jenis-jenis metode penelitian yang dapat digunakan dalam sebuah penelitian seperti yang dikemukakan Hadari Nawawi (2005: 62-63) adalah :

    1) Metode Filosofi

    2) Metode Deskriftif

    3) Metode Historis

    4) Metode Eksprimen

    Melihat permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini maka metode yang di anggap cocok dan relevan adalah metode deskriftif. Menurut Hadari Nawawi (2005: 63) metode deskriftif dapat diartikan sebagai:

    “prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana mestin

    2 Bentuk Penelitian

    Menurut Hadari Nawawi (2005: 64) bentuk-bentuk pokok dari metode deskriftif digolongkan menjadi 3 bentuk sebagai berikut:

    1) Survei (survey studies)

    2) Studi hubungan (interrelation studies)

    3) Studi perkembangan (development studies)

    3 Populasi

    Menurut Sugiyono (2004: 90) populasi adalah ‘wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Sedangkan menurut Suharsimin Arikunto (2002: 108) mengatakan “apabila sseseorang ingin meneliti semua element yang ada dalam wilayah penelitian, maka peneliiannya merupakan penelitian populasi”. Populasi dalam penelitian ini adalah semua seluruh siswa-siswi kelas XI SMA Negeri 1 Air Beasar Kabupaten Landak. tahun ajaran 2007/2008.

    Distribusi Populasi siswa kelas XI Di SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Landak Tahun Ajaran 2007/2008

    Jenis Kelamin

    Jumlah Siswa

    Laki-laki

    25

    Perempuan

    19

    Jumlah

    44

    4 Teknik dan Alat Pengumpul Data

    a. Teknik pengumpulan data

    Menurut Hadari Nawawi (2005: 94), ada 6 teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian yaitu:

    1. Teknik observasi langsung

    2. Teknik observasi tidak langsung

    3. Teknik komunikasi langsung

    4. Teknik komunikasi tidak langsung

    5. Teknik pengukuran

    6. Teknik studi dokumenter

    Dari keenam teknik yang dikemukakan diatas penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

    1. Teknik Komunikasi Langsung

    Yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan komunikasi langsung dengan sumber data.

    2. Teknik komunikasi Tidak Langsung

    Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mempergunakan angket sebagai perantara.

    3. Teknik Studi Dokumenter

    Yaitu cara mengumpulkan data dengan kategori dan klasifikasi bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian.

    b. Alat Pengumpulan Data

    Adapun alat pengumpul data yang digunakan adalah:

    1. Wawancara

    Merupakan alat yang digunakan dalam pengumpulan data, dimana peneliti akan mengadakan kontak langsung dengan guru bidang studi IPS, dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dari daftar pertanyaan yang telah disusun.

    2. Angket

    Yaitu alat pengumpul data berupa pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Air Besar Kabupaten Landak.

    3. Lembar Catatan

    Yaitu untuk mencatat data-data atau hal-hal yang berhubungan dengan penelitian.

    G. Rencana Pengolahan Data

    Untuk membuktikan sekaligus menganalisis data, demi keperluan penyajian data maka data yang sudah terkumpul harus diolah sedemikiam rupa sehingga akan lebih mudah untuk disajikan, selanjutnya pengolahan data dalam penelitian ini mempergunakan perhitungan rumus prosentase (%) ( Sanafiah Faisal, 2005 : 170) Adapun rumus tersebut adalah sebagai berikut:
    Prosentase =

    Keterangan :

    = Jumlah responden setiap alternatif

    N = jumlah seluruh responden (sampel)

    BAB II

    TNJAUAN PUSTAKA

    A. Motivasi belajar

    1 Pengertian

    Kata (motive) berasal dari bahasa latin “movere” yang kemudian menjadi “motion”, yang artinya gerak atau dorongan untuk bergerak. Menurut Abd Rachman Abror (1993: 114) motif merupakan “daya dorong, daya gerak atau penyebab seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dengan tujuan tertentu”, sedangkan menurut Mc. Donald (yang dikutip Sardiman A. M, 2001: 71), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

    Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang menjadi aktif (Sardiman A. M, 2001:71). Menurut Atkinson (yang dikutip Abd Abror, 1993: 115)”motivation refers to the factor that energize and direct behavior” (motivasi mengacu kepada faktor yang menggerakan dan mengarahkan tingkah laku).

    Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif yang ditandai dengan adanya rasa dan mengacu kepada faktor yang menggerakan dan mengarahkan tingkah laku pada saat tertentu terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan terasa mendadak.

    2 Teori motivasi

    Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa pengertian atau konsep tentang mot ivasi itu bermacam-macam rumusnya. Perbedaan pengertian atau konsep tentang motivasi tersebut dimungkinkan karena motif dalam motivasi merupakan suatu konsep atau teori yang tidak bisa diamati, walaupun hasil itu dapat dilihat dan disimpulkan dari gejala-gejala yang tampak.

    Ngalim Purwanto (1990: 74-75) membagi teori motivasi menjadi beberapa kelompok, yakni:

    a. Teori Hedonisme

    Teori hedonisme ini beranggapan bahwa pada hakekatnya, manusia mementingkan kehidupan penuh ketenangan dan kenikmatan.

    b. Teori Naluri

    Teori naluri ini beranggapan bahwa manusia memiliki 3 naluri pokok, yaitu

    1) dorongan untuk mempertahankan diri

    2) dorongan untuk mrngambangkan diri

    3) dorongan untuk berkembang

    c Teori Reaksi yang dipelajari

    Teori reaksi yang dipelajari berpendapat bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan atas naluri-naluri, melainkan berdasarkan atas pola-pola tingkah yang dipelajari dari kebudayaan masyarakat ditempat orang itu tinggal atau hidup

    d Teori Daya Pendorong

    Dimana teori daya pendorong ini merupakan perpaduan antara teori naluri dengan teori reaksi yang dipelajari. Teori ini beranggapan bahwa daya pendorong adalah semacam naluri tetapi hanya satu pendorong kekuatan yang luas terhadap suatu arahan yang umum.

    e Teori Kebutuhan

    Teori kebutuhan ini beranggapan bahwa yang dilakukan manusia pada hakekatnya adalah untuk memenuhi segala yang menjadi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik, maupun kebutuhan psikis.

    3 Ciri-ciri motivasi

    Selanjutnya untuk melengkapi uraian mengenai makna dan teori tentang motivasi, perlu dikemukakan adanya beberapa ciri motivasi yang ada pada diri setiap orang, yaitu:

    a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai

    b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai)

    c. Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah

    d. Lebih senang bekerja mandiri

    e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif)

    f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)

    g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu

    h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal. (Sardiman A.M, 2001: 81)

    4 Fungsi motivasi

    Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi:

    1. Mendorong manusia untuk berbuat. Jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

    2. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

    3. Menyelesaikan perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermamfaat bagi tujuan tersebut.

    Disamping itu, motivasi dapat juga berfungsi sebagai bahan pendorong usaha dan pencapaian prestasi sehingga dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukan hasil yang baik pula.

    5 Macam-macam motivasi

    Ada dua jenis atau macam-macam motivasi, yaitu:

    1. Motivasi intrisik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar karena dari dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin untuk mencari buku-buku untuk dibaca. Kemudian kalau dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrisik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung didalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkrit, seseorang siswa itu melakukan belajar, kare na betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan lain.

    2. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ada ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacar atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tidak ingin mendapatkan nilai yang baik atau hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. (Sardiman A.M, 2001: 87-89)

    perlu diketahui pula bahwa motivasi intrisik memiliki tujuan membuat seseorang menjadi yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang tertentu. Tetapi bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan penting, karena bisa saja keadaan siswa yang dinamis dan berubah-ubah membuat siswa jadi kurang termotivasi dan memerlukan motivasi ektrinsik. Jadi dapat dikatakan bahwa motivasi dapat dirangsang dari luar sebagai penunjang untuk memotivasi dari dalam.

    6 Bentuk motivasi

    Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar disekolah:

    a. Memberi angka

    Banyak siswa belajar untuk mencapai angka baik untuk itu berusaha dengan segenap tenaga. Angka itu bagi mereka merupakan motivasi yang kuat. Akan tetapi ada pula yang belajar untuk naik kelas saja. Angka itu harus-harus benar-benar memberikan menggambarkan hasil belajar anak. Namun belajar semata-mata untuk mencapai angka tidak akan memberi hasil belajar yang sejati dan tidak mendorong seseorang belajar seumur hidup.

    b. Hadiah

    Hadiah tidak selalu merupakan motivasi. Hadiah untuk gambar yang terbaik, tidak menarik bagi mereka yang tidak mempunyai bakat menggambar. Kalau hadiah itu rasanya tidak tercapai, maka tidak akan membangkitkan motivasi.

    Hadiah memang dapat membangkitkan motivasi bila setiap orang mempunyai harapan untuk memperolehnya. Bagi siswa, hadiah juga dapat merusak oleh sebab menyimpangankan pikiran anak dari tujuan belajar yang sebenarnya.

    c. Saingan/kompetensi

    Saingan sering digunakan sebagai alat unt uk mencapai prestasi yang lebih tinggi dilapangan industri, perdagangan dan lain-lain dan juga disekolah. Persaingan sering mempertinggi hasil belajar, baik persaingan individual maupun persaingan antar kelompok.

    Sikap anak-anak berlainan terhadap persaingan, ada yang ingin mempertinggi harga diri bila menang dalam persaingan, ada yang tidak suka, tidak berani bersaing, ada yang tak acuh karena tidak ada harapan untuk menang. Persaingan dapat merusak, yang tampil hanya anak-anak yang baik saja dengan merendahkan harga diri anak-anak lain. Dalam persaingan peserta diancam oleh rasa takut akan kegagalan.

    d. Ego-involvement

    Seorang merasa ego-involvement atau keterlibatan diri bila ia merasa pentingnya suatu tugas, dan menerimanya suatu tantangan dengan mempertaruhkan harga dirinya. Itu sebabnya ia akan berusaha segenap tenaganya untuk mencapai hasil baik untuk menjaga harga dirinya. Ego-involvement artinya harga diri anak itu terlibat dalam tugas itu. Bahayanya ialah bahwa kegagalan akan menimbulkan “sense of failure” pada anak. Harga dirinya rusak dan timbul rasa berdosa.

    e. Memberi ulangan

    Siswa-siswi lebih giat belajar, apabila tahu akan diadakannya ulangan atau tes dalam waktu singkat. Akan tetapi jika ulangan terlampau sering dilakukan, misalnya setiap hari, maka pengaruhnya tidak akan berarti lagi. Agaknya ulangan sekali dalam dua minggu lebih merangsang siswa untuk belajar dari pada ulangan setiap hari. Tentu saja harus diberitahukan dahulu akan diadakan ulangan itu. Tes tiba-tiba dalam hal ini tidak berguna.

    f. Mengetahui hasil

    Melihat grafik kemajuan, mengetahui hasil baik pekerjaan memperbesar kegiatan belajar. Sukses mempertinggi usaha dan memperbesar minat. Orang suka melakukan pekerjaan dalam hal mana diharapkannya memperoleh sukses. Karena itu bawalah anak dari sukses yang satu ke sukses yang lain

    g. Pujian

    Pujian sebagai akibat pekerjaan yang diselesaikan dengan baik merupakan motivasi yang baik. Pujian yang tidak beralasan dan tidak karuan serta terlampau sering diberikan, hilang artinya. Guru hendaknya mencari hal-hal pada setiap anak yang dapat dipuji seperti tulisannya, ketelitiannya, tingkah laku dan sebagainya. Pujian memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi harga diri anak

    h. Hukuman

    Diberikan dalam bentuk hukuman badan, pengasingan, celaan, kecaman, dan sebagainya.

    i. Hasrat untuk belajar

    Tanpa suatu hasrat atau maksud ada juga kita pelajari hal-hal tertentu. Kita mengingat nama-nama, warna-warna, situasi-situasi tertentu tanpa suatu maksud yang disengaja untuk menghafalnya. akan tetapi hasil belajar akan lebih baik, pada anak ada hasrat atau tekad untuk mempelajari sesuatu.tent u kuat nya tekad tergantung pada macam-macam faktor, antara lain nilai tujuan itu bagi anak.

    j. Tujuan yang diakui

    Motivasi selalu mempunyai tujuan. Kalau tujuan itu berarti dan berharga bagi anak, ia akan berusaha mencapainya. Guru harus berusaha agar anak-anak jelas mengetahui tujuan setiap pelajaran. Tujuan yang menarik bagi anak merupakan motivasi yang terbaik. (Sardiman A.M, 2001:90).

    B Mata pelajaran IPS

    1. Pengertian

    Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2000: 1), Ilmu Pengetahuan Sosial adalah “Mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi dan tata negara”. Sedangkan Menurut Diah Harianti ( 2007: 7), model pembelajaran IPS merupakan gabungan dari berbagai cabang ilmu sosial seperti: geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi dan tata negara. Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.

    2. Karakteristik Mata Pelajaran IPS

    a. Ilmu Penegetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan, sosiologi, bahkan juga bidang humoria, pendidikan dan agama (Numan Soemantri, 2001).

    b. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah, ekonomi, dan sosiologi yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi pokok bahasan atau topik tertentu.

    c. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.

    d. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur, proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan, dan jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).

    e. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial serta kehidupan manusia secara keseluruhan.

    3. Tujuan Pembelajaran IPS

    Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi dimasyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat tercapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan dengan baik. Dari rumusan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).

    a. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

    b. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.

    c. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang dimasyarakat.

    d. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.

    e. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.

    4. Konsep Pembelajaran IPS

    Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1993: 3). Salah satu diantaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.

    Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.

    DAFTAR PUSTAKA

    Atkinson. 1993. Psikologis Pendidikan. Terjemahan Abd. Rachman Abror. Yogyakarta : Tiara Wacana.

    Donald, Mc. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Terjemahan Sardiman . Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

    Hadari Nawawi. 2005. Metedologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Press.

    Sugiyono. 2004. Metedologi Penelitian. Jakarta : Rajawali.

    Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP/MTS/SMPLB.

    Universitas Tanjung Pura 92007). Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pontianak.

    Undang-Undang Republik Indonesia Th.2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

    Oemar Hamalik. 1994. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : bumi Aksara.

    Suharsimin Arikunto. 2002. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

    2 Tanggapan

    1. sip jid….bangga dengan kw….

    2. membaca apa yang abang tlis sya jd rindu dengan SMA qt……………!

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: